Warning: Entri ini bersifat [tidak hanya] subyektif, namun sangat imajinatif… terlalu imajinatif sampai-sampai saya pun bisa melihat entri ini melewati batas ke-ngawur-an. Lagipula, saya tengah berusaha mengaitkan ketiga hal ini…
Intro
Sejauh ini, saya tengah belajar mengenai bilangan eksponen dan hubungannya dalam diagram kartesius. Setiap kali saya memandang kosong contoh soal matematika mengenai sub-bab tersebut [yang kebetulan merupakan salah satu sub-bab favorit saya], Pikiran saya mengembara.
Apakah hidup ini juga bisa dilambangakan dengan persamaan garis?
Dalam beberapa hal, mungkin tidak… Namun, ada satu hal yang menurut saya mirip.
.
.
Sebelum saya lupa, arah pembicaraan ini bisa saja membawa anda ke sejarah, biologi, dan sedikit sosiologi…. mungkin
Semua itu tergantung bagaimana anda melihat semua ini
Menu Utama
Hidup itu panjang dan berliku. Hidup itu sulit. HIdup itu penuh pengorbanan dan perjuangan…
Meskipun kita melihat ke arah lain, di mana-mana, hidup itu sulit. Selalu ada tuntutan untuk bisa memenuhi standar hidup yang lebih tinggi. Hal ini wajar, toh kita sendiri (meskipun secara sadar maupun tidak sadar) yang telah menyulitkan diri kita sendiri. Lah, masamune11 ini gimana sih? Mana ada yang mau menyusahkan diri sendiri?
Makin hari, jumlah manusia yang ada di bumi ini bertambah. Namun, ekosistem tempat kita tinggal (kalau melihat secara global, berarti kita membicarakan bumi) tetap konstan. Coba saya tanya, sejauh ini memang ada laporan kalau bumi kita membesar beberapa kali lipat?
Tidak, sejauh ini pun bumi sama dengan 100 tahun yang lalu — sebesar itu saja.
Hmm… mari kita lirik populasi manusia kembali. Sejak berakhirnya Perang Dunia ke-2, populasi dunia terus naik tanpa ada kendali yang mengikat. Aneh tidak? Hmm… Bagaimana ya? Masalahnya seiring dengan berakhirnya perang, tekhnologi (baik di bidang medis, transportasi, makanan, energi, dan sebagainya) menjadi lebih maju.
Bayangkan… 5000 tahun yang lalu, Masyarakat Cina menemukan keajaiban ilmu pengetahuan (setidaknya untuk saya, ini keajaiban ilmu pengetahuan
): kertas. Saya ingin menitik beratkan satu hal: Tak ada kertas, maka tak ada buku. Tak ada buku maka tak ada rekord, dan tak ada rekord, maka manusia tak dapat belajar dari kesalahan yang ia perbuat dahulu kala
.
Kertas itu sendiri dibedakan kualitasnya dengan perbedaan pada kayu yang digunakan. Zaman sekarang, dengan kayu berkualitas sama, seorang pembuat kertas bisa membuat kertas yang dengan kualitas lebih bagus daripada apa yang dibuat oleh leluhurnya 5000 tahun yang lalu.
.
.
Sampai saat ini, saya [sedikit-sedikit] yakin bahwa anda berpikiran semacam, “…Koq dari populasi manusia jadi ngomongin kertas?”. Tenang. Justru itu adalah salah satu contoh yang hendak saya berikan. Mengapa contoh seperti ini diberikan di awal cerita? Hmm?
Actually, there’s no apparent reason behind that… *gets stomped*
.
.
Itu adalah salah satu contoh yang dapat saya beberkan. Kalau dipikir-pikir, mungkin dulu selembar kertas hanya bisa dibedakan kualitasnya dengan menelaah bahan apa saja yang dibuat untuk menyusun kertas tersebut. Pada akhirnya, hal yang akan dititikberatkan dalam kualitas kertas itu sendiri, bukan lain adalah… “Dibuat dari kayu apa?”
Well, That’s simple… is it not?
Kalau sekarang, bahkan dengan mengganti perekat dan bahan-bahan lain untuk membuat kertas, kita dapat jenis kertas baru (syukurlah kalau lebih bagus). Namun, penemuan ini tidak membutuhkan riset beratus-ratus tahun, tidak seperti leluhur kita yang terus mencari bahan-bahan yang baik untuk membuat kertas berkualitas tinggi. Mereka lakukan semua itu dengan tekhnologi yang minim, sedikit coba-coba, dan aksi — semua itu dibentuk dalam sebuah ‘riset’ beratus-ratus tahun. Tengok peradaban yang tengah kita bentuk; butuh berapa tahun kah bagi kita untuk mendapatkan terobosan kertas baru yang ramah lingkungan (ref. kertas daur ulang), kertas yang komposisinya diutak-atik, atau bahkan kertas yang sudah dicampur dengan bahan-bahan lain yang benar-benar dibawa langsung dari laboratorium?
Ya, saya baru membicarakan kertas. Bagaimana dengan teknologi lain? Bagaimana dengan obat-obatan, pangan, sandang, dan yang lain? Banyak sektor-sektor yang berkembang pesat dalam waktu yang relatif singkat. Memang ada bagusnya… namun untuk saya pun, perubahan yang terlalu cepat memiliki kesan yang agak mengerikan
Untuk mengaitkan dengan statement pertama saya mengenai populasi…
Seperti yang kita tahu, teknologi di zaman ini berkembang dengan pesat dalam waktu yang singkat. Otomatis, hal ini membuat hidup masyarakat lebih mudah. Berbagai macam sumber daya alam dapat dimanfaatkan dengan maksimal (contoh: pemanfaatan air dalam PLTA sebagai sumber energi untuk menggerakkan turbin listrik). Semakin mudah masyarakat mendapatkan kebutuhan-kebutuhan pokok (pangan, sandang, dan papan), semakin makmur masyarakat tersebut. Semakin makmur masyarakat itu, semakin suburlah mereka… hingga akhirnya mereka berketurunan.
Boleh saya tanya? Apabila jumlah awal dari manusia yang ada pada masyarakat [conohnya] adalah 10, mungkinkah total akhir penduduk generasi pertama dengan generasi kedua mencapai angka 100?
Menurut saya, mengapa tidak?
Pada akhirnya, teknologi juga mempercepat pertumbuhan sebuah komunitas. Dan jujur saja, melihat jumlah penduduk bumi sekarang (saya menghitung yang Homo Sapiens saja ya… yang masih hidup…
), teknologi jadi serasa pedang bermata dua.
Sepertinya memang sejak dahulu kala sudah seperti itu…
.
.
[written in the night of August 6th 2008. Apparently, the writer might have already been in the dreamland when she typed this entry]

Ndak ngerti..
Kalau nggak ngerti ada baiknya nggak usah komen.
*ini komen sama aja*
*digantung*
Hmm… tunggu, jadi ini mengutarakan pemanfaatan bioteknologi dalam perkembangan manusia?
Masak gak ngerti bung?
saia juga nggak sih **dibunuh**,,Yah,, biaroun setelah dibaca
berulang”,,barulah saia mendapatkan intinya…..**diusir Masmun karna sekalinya masuk malah ngejunk**
@Mihael:
@Goenawan:
@xaliber:
. Saya sendiri menganggap teknologi sudah berkembang dengan mengerikan… sangat mengerikan sampai-sampai rate pertumbuhan penduduk bertambah tinggi
Tergantung bagaimana anda melihatnya
@nBLa:
memangnya intinya apa?:lol:
Mangkanya, karena ada bioteknologi itu kah pertumbuhan penduduk bisa dipercepat? Atau jangan-jangan kita membicarakan kloning manusia disini…
*ngayal*
Uhmm,, tunggu,, saia baca ulang dulu….. >___< **dilempar**
Arr,, hubungan antara perkembangan teknologi dengan perkembangan populasi manusia?
Jadi ya,, seperti yang dikatakan diatas,, teknologi sudah sangat berkembang dengan sedemikian rupa
mengerikannya,, sampai” akhirnya turut mempengaruhi jumlah populasi manusia (?)**digaplok karna sok tahu**
@xaliber:
Saya tidak membahas kloning dalam contoh, tapi itu boleh juga
@nBLa:

Bingo~
Masalahnya kalau sku menjelaskan lebih panjang, nanti berimbas ke persamaan kalkulus dan sebagainya…Bagaimana dengan perang dunia ke3? Ke4? Dst? Perang antar galaxy?
Mungkin dengan teknologi masa depan, suatu saat matahari dapat dikuasai? Menaklukan semua planet yang bahkan belum terungkap beserta satelitnya plus semua bintang, black hole, dan apa pun itu yang berada di luar angkasa. Walaupun dengan pengorbanan yang setimpal sebelumnya.. Karena kita hidup bukan saja di bumi. Tapi di sesuatu.. yang bernama kehidupan.
Batu, gunting, kertas, kulit, kayu, kertas (lempengan diselipin di mana ya), laptop, PDA, dst, dsb, dkk, dll.
Mungkin bakal ada batre tenaga.. suhu?
Kalo malem manfaatin suhu dingin, kalo siang bisa manfaatin suhu panasnya, ato kalo mau dibalik juga sah aja. Jadi tuh batre gak ada matinya n gak perlu recharge. Jadi rusaknya palingan karena soak? Lupakan. Mari coret juga istilah soak untuk masa depan. 
Jadi bisa rusak kalo diapain ya.. hmm dibanting nggak. Direndem air juga nggak. Dilelehin sama dibekuin? Patut dicoba dulu. XD Nngg… Mungkin kalo dilepas batrenya. ~_~
Kalo gitu batre bisa dicoret dari daftar gadget. Bikin gadget tanpa batre!
AAAAAAA
….
Sepertinya saya yang soak.
Oke, recharge dulu. Hm! Bikin alat juga biar manusia gak perlu istirahat?
Stop it.
Puitis…
OBJECTION! Batere termasuk sumber energi, sementara suhu hanyalah sebagai media untuk membandingkan level energi sebuah benda! Semakin tinggi suhu, semakin besar energinya! Maka dari itu, akan lebih sulit untuk menarik energi dari bahan yang terlalu dingin!!
*Active Imagination: On* *ditendang*
Masa depan itu penuh dengam misteri (Mengingat quote Master Oogway dari Kungfu Panda)
Bagaimana canggihnya Bioteknologi, tidak ada yang bisa menandingi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Teknologi Manusia suatu saat akan mencapai batas klimaksnya…
eksponen, kartesius,,, yah,,, semua segi memang terlihat meningkat makin maju,,, tapi entah ada hantu k”kehancuran” yang justru seiring ikut berjalan berkebalikan…
yah,,, sampai bilangan biner menjadi lebih menarik, semua hal bisa dibuat ke dalam kombinasi nol dan satu. dua bagian yang berkebalikan tapi merupakan pasangan yang mengerikan, antara ada dan gak ada, kosong dan isi, yang berjalan mengikuti ruang omega dikalikan t. dunia bakalan jadi digital.
lalu…
saat bumi mulai penuh padat dengan manusia2, sementara tempat baru, planet baru belum berhasil ditemukan,, mungkin ide gila kontrol populasi manusia dari mereka kaum yang lebih berkuasa mungkin bakal bener2 terjadi (ah.. semoga saja tidak),
program KB, perang dunia, pembersihan etnis, bencana, senjata biologi, kontrol pangan dunia.. ah entah apa lagi dituding sebagai perwujudan upaya kontrol populasi dunia tersebut..
subhanallah,, wallahu aklam.